widget
Showing posts with label Lifestyle. Show all posts
Showing posts with label Lifestyle. Show all posts

Cinta ( Realita Cinta )

Cinta. Topik yang bersifat personal tetapi berlaku universal ini, membuat saya tergelitik membuat opini tambahan, untuk melengkapi tulisan pembuka tentang cinta yang ditulis di buku tersebut.

Sedemikian rumit dan misterius-kah cinta?

Tidak sedikit orang yang dengan sengaja dan dengan berbagai cara berusaha mencari cinta yang sebenarnya. Cinta Oh Cinta......

Cinta adalah naluri awal yang dimiliki setiap manusia. Setiap anak yang dilahirkan, pasti dihasilkan dari sebuah cinta. Bisa jadi hanya cinta separuh jiwa, bila seorang ibu melahirkan sendirian. Kalau suami yang (dulu) dicinta, sudah pergi entah kemana.

Rasa hangat didalam hati itu, yang diimplementasikan dalam wujud nyata berupa perhatian, kasih sayang dan rela berkorban untuk orang yang dicintai, kerapkali diidentikkan dengan kata cinta.

Cinta sejati akan menghampiri setiap orang yang bisa mencintai dengan tulus. Siapa saja yang mampu mencintai tanpa pamrih dan mengharap balasan. Cinta juga tidak pernah pandang status, pangkat apalagi jabatan. Dia akan menghampiri di saat yang tepat, pada orang yang sudah ’siap’ untuk menerima cinta.

Penerimaan ini berkaitan erat dengan kemampuan seseorang untuk menekan ego. Karena bila sudah siap dicinta, maka orang tersebut juga harus siap mencinta. Artinya, dia harus ‘menurunkan’ standar kesempurnaan serta harapan agar ada kesetaraan dengan pasangan.

Kesetaraan.

Istilah ini bisa jadi hampir dilupakan. Padahal dalam cinta sepasang kekasih, dua manusia yang saling jatuh cinta itu harus memiliki kesetaraan rasa, logika bahkan kesetaraan cita-cita. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, adalah cinta yang tidak memiliki kesetaraan. Kala pihak yang satu merasa lebih tinggi dari yang lain, maka cinta tersebut hanya tinggal menunggu waktu untuk hilang terbuang. Mencari cinta lain, yang lebih tepat dan setara.

Cinta sepasang kekasih, adalah bentuk lain dari perwujudan cinta yang seringkali kita jumpai. Harus ada ketertarikan awal, sehingga dua hati dapat menyatu dan mengikrarkan janji setia untuk saling mencinta. Tidak terlalu penting lagi menjadi orang yang dicintai atau mencintai, karena cinta selalu menemukan tempat yang tepat untuk berbagi perhatian dan kasih sayang.

Satu hal yang harus dilakukan agar kita menemukan cinta yang benar, adalah menyiapkan hati, pikiran dan diri kita agar pantas serta layak mendapat cinta sejati. Cinta yang tulus dari pasangan kita.

Cinta yang tidak pernah pudar dimakan zaman, adalah cinta seorang ibu pada anaknya. Cinta orangtua pada putra-putrinya. Cinta yang hanya memberi, tanpa pernah mengharap balasan materi. Cinta yang datangnya murni dari dalam hati itu.

Ada lagi satu cinta yang kini makin terlupa. Yaitu cinta rakyat pada negaranya. Cinta masyarakat pada tanah tumpah darahnya. Cinta seorang pahlawan pada tanah air yang rela ditebus dengan nyawanya. Cinta yang tidak memiliki ikatan darah, tapi setara dengan rasa cinta orangtua pada anaknya.

Cinta, dengan segala macam perwujudannya, adalah naluri yang dimiliki setiap manusia. Insting pertama kita untuk belajar berbagi rasa.

Cinta yang jatuh di tempat yang salah, akan membuat cinta kehilangan kesakralannya. Bisa membuat arti cinta menjadi sesuatu yang tidak indah dan kehilangan kesejatiannya.

Cinta memang anugerah terindah yang harus selalu digali dan dibagikan. Pada keluarga, pada pasangan juga pada orang-orang yang ada diseliling kita.

Kenapa?

Agar cinta itu senantiasa memiliki makna seperti tujuan awalnya cinta itu diberikan oleh Sang Maha Pencipta, yaitu untuk memuliakan setiap manusia di dunia…
READ MORE - Cinta ( Realita Cinta )

Pengaruh Televisi Pada Perilaku Anak

Anak-anak lebih bersifat pasif dalam berinteraksi dengan TV, bahkan seringkali mereka terhanyut dalam dramatisasi terhadap tayangan yang ada di televisi. Disatu sisi TV menjadi sarana sebagai media informasi, hiburan bahkan bisa sebagai kemajuan kehidupan, namun disisi lain TV dapat menularkan efek yang buruk bagi sikap, pola pikir, perilaku anak.

Televisi tidak bisa dipungkiri, kini boleh jadi telah menjadi pengasuh setia masyarakat. Tak terkecuali anak-anak. Yang jadi masalah, kalau anak-anak menonton tayangan televisi yang tidak sesuai dengan usianya. Misalnya, tayangan seks dan kekerasan. Anak-anak yang masih rentan daya kritisnya, akan mudah sekali terpengaruh dengan isi dan materi tayangan televisi yang ditontonnya, dan pengaruhnya bisa terbawa sampai mereka dewasa.

Oleh sebab itu para orang tua senantiasa diingatkan untuk menerapkan kontrol yang ketat terhadap kebiasaan menonton tivi bagi anak-anaknya. Karena kalau tidak dimulai dari sekarang, dampaknya sangat membahayakan buat perkembangan jiwa mereka.

Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah. Dampak menonton televisi bagi anak-anak. Antara lain bisa menimbulkan ketagihan dan ketergantungan serta pola hidup konsumtif di kalangan anak-anak. Anak-anak akan merasa pantas untuk menuntut apa saja yang ia inginkan.

Terlepas dari baik buruknya tayangan televisi yang ditonton seorang anak, pola menonton tivi yang tidak terkontrol akan menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak.

Yang pertama, ketrampilan anak jadi kurang berkembang. Usia anak adalah usia dimana si anak sedang mengembangkan segala kemampuannya seperti kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain dan kemampuan mengemukakan pendapat. Dampak lainnya, disadari atau tidak, perilaku-perilaku yang dilihat di TV akan menjadi satu memori dalam diri si anak dan akibatnya si anak menjadi meniru yang bisa berkembang menjadi karakter pribadinya di kemudian hari, kalau tidak segera diantisipasi. Jadi jangan heran, kalau orangtua melihat tingkah anaknya yang kasar atau suka mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, meski orang tua setengah mati meyakinkan bahwa mereka tidak pernah mendidik anaknya seperti itu. Bisa jadi, itu akibat pola menonton tv yang tidak terkontrol.

Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat mempengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku dan media massa. Ketiga lingkungan tersebut saling menopang dalam mempengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter anak.
READ MORE - Pengaruh Televisi Pada Perilaku Anak

Pengaruh Makanan dalam Perspektif Biologi Kuantum

Ketika seorang ayah memberikan uang kepada ibu untuk membelikan makanan bagi kedua anak mereka yang masih balita, maka sang ibu dengan sigapnya segera berbelanja ke tukang daging di pasar langganan.Semuanya tampak biasa dan wajar-wajar saja. Tetapi bila ternyata uang yang didapat sang ayah tadi bukanlah terkategori sebagai pendapatan yang halal, maka jalan ceritanya akan panjang dan pasti tidak akan “happy ending”.

Apalagi tokoh sang ibu dalam cerita ini rupanya tengah berbadan dua. Dongeng punya cerita, ternyata setelah diusut-usut oleh KPK, uang yang dibawa pulang oleh sang Ayah adalah uang yang tidak semestinya diterima. Sang ayah yang pegawai sebuah perusahaan dan tentulah sudah tahu dan dapat membedakan, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Akan tetapi karena desakan hawa nafsu ingin tampil sebagai seorang kepala keluarga yang prestatif serta mendapat tempat yang terhormat di mata istri dan keluarganya serta lingkungan sekitarnya, maka uang itupun diterimanya.

Dengan senang hati? Tentu tidak. Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, sampai-sampai ia sendiri merasa bahwa jantungnya bisa saja putus saat itu juga. Keringat dingin meleleh di sepanjang tulang punggungnya, dadanya terasa sesak, sampai-sampai kemeja yang dikenakannya serasa melekat erat bak pakaian senam. Nafas tersenggal-senggal, dan kepala terasa pening melayang. Ya, itulah pertanda seluruh tubuhnya sepakat menolak untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah dosa.
Uang yang notabene hanya sekedar sekumpulan karbon yang berbentuk kertas dan sama sekali tidak berdosa, bila terpegang oleh tangan-tangan yang chaos akan ketularan dan menunjukkan sifat (fenotip) serupa. Kertas uang akan menjadi media penghantar multi level dosa (MLD). Sang ibu yang kemudian berbelanja dan membeli ½ kg daging has dalam dari seekor sapi yang nyata-nyata halal karena disembelih dengan menyebut nama Allah, akan kecipratan efek tidal dosa yang seperti molekul dalam gerakan Brown, membentur sana-sini dan berzig-zag kian-kemari menciprati tetesan dosa kesana-kemari, terdorong oleh panasnya energi kinetik rasa bersalah. Dan daging has dalam sapi yang halal itu, ketika terpegang oleh lengan ibu yang terkena efek gerak brown dosa, maka akan berubah pula menjadi sekumpulan atom C, H, O, N, P,dan K yang resah dan gelisah (ingat hampir semua elemen di alam semesta bersifat dielektrik).

Ya, daging itu telah menjadi medium turunan ketiga dari sebuah dosa. Jangankan terpegang, dikantungi plastik saja dan plastik itu “dicengkiwing” hanya oleh 1 ibu jari dan 2 jari anak buahnya, maka sifat semi konduktornya tetap akan menjadi penghantar bagi proses MLD (multi level dosa) . Kemudian daging itu disemur, dan dimakan beramai-ramai. Ketika ia sampai di lambung dan saluran pencernaan, amilase, gastrin, pepsin, tripsin, garam empedu,dan juga lipase ogah-ogahan menjamunya karena merasa tak kenal. Jadilah daging itu diolah seenaknya dan tentu semau gue juga dong! Blok pembangun yang semestinya kelak dapat menjadi bagian dari keshalehan dan kejeniusan otak seorang anak, gagal menjadi protein dan banyak diantaranya menjadi gugus sterol alias lemak. Lemak ini akan terakumulasi menjadi hormon steroid dari anak ginjal yang mendorong terciptanya rasa cemas, gelisah, khawatir, dan ketakutan. Coba bayangkan, hanya dari sekerat daging sapi yang semestinya halal, anak-anak dari keluarga muda itu akan tumbuh menjadi anak-anak yang pemarah, murung, gelisah, dan ketakutan, tanpa mereka pernah tahu apa sebabnya.

Dan bila kelak mereka dewasa serta menjadi pribadi yang berakhlaq kurang mulia, siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab dan terbebani oleh dosanya?

Naudzubillahi mindzalik.

Ternyata proses dan fenomena ini tidak hanya terjadi pada kegiatan makan-memakan saja, melainkan pada semua aspek kehidupan seorang manusia. Setiap rasa bersalah karena melanggar perintah dan larangan Allah, yang merupakan kebenaran absolut, maka setiap sel dan setiap unsur di dalam tubuh kita akan bersikap chaos yang pada gilirannya akan mengakibatkan munculnya dampak akumulatif yang mengacaukan sistem bio-psikologis. Jiwa-jiwa kita menjadi sulit untuk mencapai tataran muthmainah, naudzubillahi mindzalik. Seorang ibu yang tegang dan kecewa (tanda-tanda kufur nikmat), pada saat mengandung putranya berarti dapat pula dikatakan berinvestasi pada kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa anaknya di kemudian hari. Demikian pula seorang ayah yang pemarah dan pembohong, setiap belaiannya pada sang anak akan menularkan ketakutan, kegelisahan, dan kekacauan quantum biologis pada anaknya.
Oh anak, engkau rupanya sebuah cermin bagi keimanan kedua orangtuamu.

Oleh karena itu pula terkuak makna dalam doa sebelum makan yang memiliki arti tidak sekedar mengharapkan barokah dari makanan yang tersedia, tetapi juga permohonan agar terhindar dari azab api neraka. Doa makan itu rupanya bagian dari proses sterilisasi dan pengeliminasian unsur-unsur dosa (haram) dalam sebuah makanan.

from:
http://www.acehforum.or.id/pengaruh-makanan-haram-t23321.html?s=3130977a36498dfa87abe327e347ccdd&
READ MORE - Pengaruh Makanan dalam Perspektif Biologi Kuantum

Yang Dicari Pria dari Wanita Lebih Tua

KOMPAS.com - Menurut survei yang dilansir situs pria askmen.com, belakangan ini tren hubungan pria dengan wanita yang lebih tua makin menanjak. Di masa lalu, kebanyakan orang berpikir bahwa wanita lebih cepat matang ketimbang pria, karenanya, untuk menyeimbangkan, disarankan untuk wanita mencari pria yang lebih tua, yang bisa membimbing. Lalu, apa alasan pria masa kini memilih wanita yang lebih tua? Penasaran? Berikut adalah alasan-alasan para pria untuk memilih berhubungan dengan wanita yang lebih tua:

Lebih Mandiri
Wanita yang lebih tua, biasanya tak masalah menghabiskan waktu untuk sendiri. Mereka memiliki banyak pengalaman dengan pria, dan terbiasa untuk menjalani hari sendirian. Karenanya, tak masalah bagi wanita yang lebih tua ketika pasangannya tidak selalu ada di sisinya setiap waktu. Para wanita ini dinilai tak terlalu bergantung atau butuh perhatian lebih, karenanya, lebih mudah untuk berhubungan dengan mereka.

Lebih Asertif
Secara umum, wanita yang lebih tua sudah menemukan jati diri mereka dan mengetahui apa yang mereka inginkan. Para wanita ini tak lagi merasa takut terhadap pria, ditambah lagi, mereka tak ingin membuang waktu bermain-main dengan perasaan. Umumnya, wanita di awal 20-an akan cenderung "tarik-ulur", atau berusaha membuat pasangannya cemburu, sementara para wanita yang lebih tua lebih suka berterus terang akan perasaan mereka. Bagi pria, keterbukaan dan kejujuran ini sangat menyenangkan.

Perbincangan yang Menarik
Komunikasi adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah hubungan. Wanita yang lebih tua lebih paham banyak hal dan sudah berpengalaman dalam hidup, sehingga lebih banyak bahan untuk diperbincangkan. Selain itu, mereka pun memiliki cerita-cerita menarik, sehingga akan menjadi pasangan berbincang yang sangat menyenangkan. Perbincangan menarik akan membantu hubungan tetap menyenangkan meski percikan-percikan gairah fisik sudah mulai berkurang.

Punya Uang
Bagi pria, hal ini bukanlah yang terutama, tapi cukup penting. Karena, pria merasa memiliki pasangan yang bisa diandalkan dan tak perlu harus selalu bergantung kepada dirinya. Belum lagi pria pun tak harus mengkhawatirkan si wanita yang sewaktu-waktu butuh uang sementara dirinya pun sedang kekurangan.

Persahabatan yang Dewasa
Wanita-wanita yang muda seringkali terbelit masalah dalam hubungan persahabatan. Tak jarang, untuk bisa menjadi pasangan dari wanita muda, pria harus mendapatkan semacam "persetujuan" dari sahabat-sahabat wanita ini. Sementara wanita yang lebih dewasa, sudah bisa mempercayai keputusannya sendiri, tak harus selalu meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Wanita dewasa sudah lebih percaya diri dan mandiri. Mereka pun sudah bisa memilah sahabat mana yang bisa mereka dengarkan.

Memiliki Selera yang Lebih Baik
Wanita yang lebih dewasa memiliki selera yang lebih baik dalam menghabiskan waktu bersama teman kencannya. Mereka sudah melewati masa-masa pemberontakan ala remaja, dan tak melulu ingin menjadi pusat perhatian layaknya gadis muda. Karenanya, mereka akan lebih memilih hal yang lebih tenang dan bermakna ketika memutuskan kegiatan atau tempat untuk berkencan.

Bukan Drama Queen
Wanita-wanita muda cenderung emosional, karena mereka banyak merasakan pengalaman pertama. Sehingga, histeria yang dialami sangat terasa seperti drama. Cinta pertama, putus dari pacar pertama, dikhianati untuk pertama kalinya, dan masih banyak lainnya. Karena kurangnya pengalaman, para wanita muda seringkali terlalu membesar-besarkan masalah. Sementara wanita yang lebih dewasa dinilai lebih bisa menghadapi masalah lebih baik, mereka bisa dengan tenang menghadapi tekanan dan masalah, bahkan cenderung bisa menyelesaikan masalah sendiri dengan baik.

Pengalaman dalam Berhubungan
Wanita dewasa tahu bagaimana menghadapi masalah dan hari-hari penuh kesengsaraan yang diakibatkan oleh hubungan karena mereka sudah pernah mengalaminya. Wanita dewasa sudah mampu mengukur dan mampu menghadapi persoalan seputar hubungan. Alhasil, karena kedewasaannya ini, wanita yang lebih tua bisa menjaga hubungan lebih baik.

Menghargai Waktu
Karena wanita dewasa sudah mengerti apa saja hal-hal penting dalam hidup, mereka lebih bisa mengapresiasi waktu yang dilewati, tanpa perlu mengumbar emosi berlebihan. Kebanyakan wanita yang masih muda menganggap hubungan atau hidup secara umum dengan kacamata yang sangat serius. Sementara para wanita dewasa memandang pria dari nilai kepribadiannya. Ia sudah tahu ada apa di luar sana, dan ia pun tahu bagaimana menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakan apa yang ia punya begitu saja.

NAD

Editor: NF

Sumber: askmen
http://female.kompas.com/read/xml/2010/02/02/19240934/yang.dicari.pria.dari.wanita.lebih.tua

READ MORE - Yang Dicari Pria dari Wanita Lebih Tua

Seven of Highly Successful Couples

The problem with happily ever after is there's more to ever after than meets the eye. To hold on to Prince Charming, Snow White has to be willing to do more than sing with the bluebirds.

If you are willing to put forth the effort to keep your relationship alive, then developing the following seven habits will help you become one of those highly successful couples.

GIVE EACH OTHER PLEASURE

Your goal in the relationship is to give each other pleasure, not to cause pain. Simple, isn't it?
However... for just a single day, become consciously aware of everything you do, by asking yourself the question, "Is what I'm about to do or say going to cause my partner pain or pleasure?"

To help you, each of you should make two lists: one for all the things your partner does that hurt you, and another for all that you'd like your partner to do to give you pleasure.
Swap lists, and now you know exactly what to do and what not to do. No more guessing!

CREATE LOVE AND FRIENDSHIP RITUALS

We fall in love through rituals of connection and intimacy such as romantic dinners, long conversations, riding bicycles or going for walks, exchanging gifts, talking every night on the telephone...

When we fall in love our relationship becomes the center point of our life, with anything else becoming secondary.

Over time, when the relationship becomes more settled (particularly after we have children), this process reverses.
The children, our work, our hobbies, our friends - take the center stage and the relationship being relegated to the background tending only to receive our attention in times of crisis.

The remedy to routine (the main cause of dull relationships) is connection and intimacy rituals.

For example, every Saturday evening, as a changeover from the working week into the weekend, take two hours together when you put a "do not disturb" sign on your busy life.
No phones, no answered doors, no e-mails, no TV, nothing...
Just the two of you and your relationship.
Do what you will with the time, however it must be an investment in your relationship.

CREATE A SAFE SPACE FOR OPEN AND HONEST SHARING

Create a sense of safety and acceptance that allows each of you to express your feelings, problems, expectations and disappointments.

One of our connection rituals is a process called "Clearing" that creates this atmosphere of safety and acceptance.

EVERY NIGHT before we go to sleep, we ask each other "what DID NOT work for you today?"
We give each other a chance to share about all the things that went "wrong" during the day (whether connected to the relationship or not).
If there are any solutions that we can mutually agree upon to assist with improvements for the future, we raise the issue.

When both of us are complete, we initiate a second round, in which we ask each other "what DID work for you today?"
This is our opportunity to share about all the goodness that we've experienced during the day, as well as acknowledge each other (and others) for the support and love we've received.

WORK TOGETHER TO RESOLVE CONFLICT AND CRISIS

The problem with the way most couples argue is that they attempt to find solutions before allowing each other the chance to say what they need to say.

The "Council" process ensures that before you engage in solution talk, each one of you feels you have been fully heard.

Here's how it can be made to work in the practice:
One person holds an object in their hand, called the "Talking Piece", which symbolizes that he or she has the floor.
While one person has the floor, the other person is allowed only to listen without interruption.

When speaking, you should focus on speaking from your heart (emotional, spontaneous, instinctive as opposed to mental).

When listening, you are encouraged to listen from your heart (i.e. from acceptance and compassion).

Only after each person has been fully "heard," (in case it is still necessary) continue through to the process of problem solving.

TURN TOWARD EACH OTHER, RATHER THAN AWAY

When you pass your lover during the course of a day, do you stop and rub their shoulder, give them a kiss on the cheek, and whisper something nice in their ear - or do you just walk on by?

This is the meaning of "turning toward" as opposed to "turning away."

Turning toward each other means making each other your number one priority.

Make sure to find ways to be physically and emotionally close to each other, such as doing things together that you both enjoy. Take walks together, drink coffee together after dinner, listen to music together...

SCHEDULE TIME FOR LOVE

Want to improve your sex life? Here's one of the most profound pieces of advice I can give you: SCHEDULE IT!

Doesn't sound very romantic, I know. But it works.

Waiting for that "magic moment" when you're both "in the mood" may be romantic, but it's not always practical. We all have had times when we were waiting and waiting and... waiting.

Plan in the morning to make love that night. Call each other all day long with reminders, ideas and seductive suggestions.
By the time evening rolls around you'll both feel like you've engaged in foreplay all day long - and you'll be ready for an exciting night!

CREATE MEANING IN YOUR RELATIONSHIP

Think about it, besides having fun, what else would you like to do together in the coming 40 years?

We all need meaning in our lives.

You will enrich your relationship by sharing meaningful experiences with each other. The ultimate in meaning is to share a common philosophy of life and life purpose.
This is why couples who choose a path of personal-growth or spirituality together, have great source of meaning in their lives.

When you practice these seven habits intentionally and consistently, you'll re-create every day a loving, fulfilling and long-lasting relationship.

It's easy - give it a try...
READ MORE - Seven of Highly Successful Couples

PENCURIAN IDE

PENCURIAN ide di dunia kerja bukan hal yang mustahil.Jika hal ini terjadi, Anda harus punya strategi untuk mengatasinya. Bagaimana caranya?

Saat sedang rapat, seorang rekan kerja tiba-tiba mengajukan ide yang menarik. Anda perhatikan ide tersebut, dan ternyata saat mendengarnya lebih lanjut, Anda tersadar bahwa itu adalah ide Anda. Tak ada kata lain yang bisa diucapkan selain bahwa dia telah mencuri ide Anda. Peristiwa rekan kerja yang mencuri ide memang bukan hal baru dalam dunia kerja.

Menurut Charmaine McClarie, pendiri dan presiden McClarie Group ??? perusahaan konsultan komunikasi???, peristiwa pencurian ide terjadi karena si pencuri merasa takut dan malas saat bekerja.

"Mereka yang mencuri ide umumnya merasa bahwa mereka tak mampu untuk memberikan ide dan perkembangan positif terhadap perusahaan. Karena itulah, mencuri ide adalah jalan terbaik yang mereka pikir bisa dilakukan," terang McClarie, seperti dikutip dari careerbuilder.com.

Jika sadar bahwa ide yang sedang dikemukakannya itu adalah ide Anda, sudah tak penting lagi bagi Anda untuk bertanya mengapa dia mencuri ide tersebut. Bereaksi berlebihan juga tak akan banyak membantu, karena Anda tak punya bukti konkret bahwa itu adalah ide Anda.

McClarie justru menyarankan, jika Anda memiliki ide, sebaiknya langsung mengatakannya jauh-jauh hari sebelum Anda melaksanakan ide tersebut.

"Anda harus tahu siapa saja yang berhak mengetahui ide Anda. Jika ada sekumpulan orang yang mengetahui bahwa itu adalah ide Anda dan mereka mendukung ide tersebut, maka tak ada yang bisa mencurinya dari Anda," tegas McClarie.

Namun jika Anda tetap bersikeras untuk memprotes pencurian itu, lakukanlah dengan cara yang beretika.

"Karena bisa jadi, protes Anda tersebut bisa menjadi bumerang bagi Anda sendiri. Anda bisa saja dicap sebagai karyawan yang suka mengeluh dan tukang protes," tandas McClarie.

Akan lebih baik jika setelah pencurian ide tersebut, Anda melakukan kontrol terhadap ide itu dan mulai berpikir bagaimana mengembangkan ide tersebut.

"Daripada melakukan protes terhadap pencurian itu,lebih baik kembangkan ide secepat mungkin. Setelah itu, kirim pengembangan ide yang telah Anda buat melalui email ke semua orang yang datang ke rapat tersebut. Dengan selangkah lebih maju dari rekan yang mencuri, pujian dan penghargaan akan tetap jatuh ke tangan Anda," sarannya.

Perspektif lain

Perspektif berbeda tentang pencurian ide disampaikan Richard Gallagher, penulis buku How to Tell Anyone Anything: Breakthrough Techniques for Handling Difficult Conversations at Work . Menurutnya, tak ada yang namanya ide yang dimiliki satu orang saja.

"Ide yang diberikan dan penghargaan yang mengikutinya sering disalahartikan sebagai hal yang bisa menaikkan popularitas Anda dalam dunia kerja. Padahal dalam dunia nyata, setiap ide berkembang atas masukan dari banyak pihak atau dari satu tim," ujarnya.

Untuk membuatnya berjalan lancar, berikut lima hal yang bisa dijadikan panduan untuk mencegah pencurian ide atau mengembangkan ide.

1. Jangan salah pilih orang

Sering kali, setiap kita memiliki ide, kita memilih mengungkapkannya kepada rekan kerja terdekat. Padahal, cara ini bisa berpotensi pada pencurian ide. Lebih baik sampaikan ide ini langsung ke pimpinan atau orang yang Anda anggap sebagai pemimpin di tim.

2. Perbaiki perspektif
Jika ternyata ada yang mencuri ide Anda, lebih baik ubah perspektif Anda dengan mengatakan pada tim bahwa rekan kerja Anda sudah membuat ide Anda tersebut menjadi lebih komunikatif dan mudah dijalankan.

3. Cari dukungan

Sampaikan ide kepada seseorang, kemudian ajak rekan lain untuk membicarakan ide tersebut. Dengan begitu, ide Anda tak akan dicuri siapa pun, karena Anda sudah menceritakannya ke semua orang.

4. Jalankan

Ide hanyalah sekadar wacana. Siapa yang berhasil mewujudkannya, dialah yang akan diingat sebagai orang yang berjasa. Hal ini bisa disamakan dengan penemuan berbagai alat transportasi di dunia. Belum tentu yang berhasil menciptakan alat transportasi baru itu adalah orang yang memiliki ide awal tentang alat transportasi tersebut. Jadi daripada sibuk hanya memikirkan ide, lebih baik jalankan saja.

5. Sebarkan

Lontarkan suatu ide dan biarkan orang lain yang mengembangkannya. Dengan cara ini, Anda akan melihat banyak perkembangan positif dalam karier Anda, daripada Anda hanya menjadi satusatunya orang dengan ide-ide brilian

READ MORE - PENCURIAN IDE

KDRT Lagi.............

Meski kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kerap terdengar, masih saja membuat hati ini sedih pilu ketika seorang kenalan mengalaminya. Seribu pertanyaan mengapa tetapi tak pernah cukup kata untuk menjawabnya. Ini bukan kali pertama saya mendengar kasus serupa, diluar berita dan infotainment yang melibatkan orang kebanyakan sampai selebriti. Beberapa bulan lalu teman yang lain, sebelumnya teman dari teman juga mengalaminya.

Oprah show pun mengangkat topik domestic violence membahas penyanyi terkenal Rihanna yang belum lama ini juga mengalami tindak kekerasan teman hidupnya yang juga seorang penyanyi. Untuk menunjukkan keprihatinannya Oprah bahkan akan menggelar acara yang didedikasikan untuk Rihanna-rihanna lainnya di seluruh dunia.

Di Indonesia undang-undang penghapusan KDRT telah disahkan sejak 2004. Undang-Undang ini menyebutkan bahwa KDRT tidak hanya mencakup penderitaan fisik tetapi juga psikis, seksual dan penelantaran rumah tangga. Selengkapnya bisa dilihat di http://www.lbh-apik.or.id/fact-58.htm.

Tindak kekerasan tidak terkait status sosial pelakunya demikian pula dengan reaksi dari korbannya. Kasus Rihanna sang penyanyi terbuka berkat salah seorang tetangganya yang menghubungi 911 setelah mendengar teriakan-teriakan. Memang diperlukan suatu keberanian bagi korban KDRT untuk melaporkannya, kebanyakan mundur dikarenakan pertimbangan faktor nama baik, anak-anak dan keutuhan keluarga.

Acapkali tercipta konflik dalam kehidupan perkawinan tetapi apakah kekerasan psikis apalagi fisik menjadi solusi satu-satunya? Bukankah kemampuan mengelola perbedaan dan konflik termasuk proses pembelajaran yang dijalani suami istri dengan prinsip saling menghargai pasangan. Prilaku kekerasan seringkali sulit terdeteksi sebelum terjadi pernikahan tetapi apabila telah terlihat gejala-gejala calon pasangan memiliki potensi untuk melakukan kekerasan rasanya patut dipertimbangkan kembali rencana untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Jangan pula abaikan informasi dari kanan kiri tentang kredibilitas calon pasangan, tentu saja bukan berarti tidak selektif terhadap isi informasinya.

Ketika pernikahan menjadi suatu ikatan yang menyakitkan apakah layak kita berdiam diri? Love doesn’t hurt ….Apakah pernikahan layak dipertahankan ketika tujuan pernikahan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warohmah (tenang, tentram, bahagia, dirahmati Allah) itu sendiri semakin jauh? Go for help …. Carilah bantuan kepada sahabat, teman, atau pihak berwajib, kalau perlu meminta pertolongan kepada pihak lain (LBH, Komnas Perempuan dll). Jangan pernah merasa anda sendiri …
READ MORE - KDRT Lagi.............

Kenapa Takut Lapor Klo terjadi KDRT

Ada banyak faktor yang jadi bahan pertimbangan knp para korban kdrt khususnya wanita segan atau gak mau lapor.

1. faktor ekonomi, kalau qt liat bbrp tahun kblakang, wanita itu dlu kebanyakan hanya berprofesi sbgai ibu rmh tangga, jadi dy tidak bisa menghasilkan uang dan hanya berpangku tgn trhdap suami.. makanya ketika ada kdrt, mereka berusaha mempertahankan rmh tangganya agar masih ada suami yang menanggung biaya hidupnya serta keluarga.

2. anak, mereka yang masih memiliki anak tentu berat untuk melepas suami mereka walaupun perangai suami mereka buruk.. tapi mereka skali lagi mencoba untuk bertahan karena mereka tergantung trhdap suami mereka.

3. underpresure, ada juga yang takut melapor karena di ancam oleh pelaku..

4. dlu, UU ttg kdrt blm disahkan, serta sosialisai ttg UU trsbut blum banyak.. sehingga para korban kdrt tdk tau harus melapor kmn..

5. faktor sosial, ada bbrapa yang menutupi kasus kdrt karena menganggap hal ini "aib" dan mereka takut untuk melapor agar kejadian ini tidak diketahui oleh orang2, terlebih untuk menjaga nama baik keluarga besar.

Tapi skrang, masyarakat qt semakin cerdas dalam menyikapi hal2 seperti ini, dan lingkungan masyarakat pun cepat tanggap, sehingga kdrt ini bisa ditanggulangi. terutama jika kdrt menimpa pada anak2..
kasian ya...
READ MORE - Kenapa Takut Lapor Klo terjadi KDRT

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Belum hapus dari ingatan tentang seorang ibu yang mencabut laporannya terhadap suaminya yang gemar memukul, kembali ada berita KDRT tentang seorang ibu yang hanya karena dia ‘berani’ meminta ongkos lahiran kepada suaminya malah dihadiahi aneka variasi tinjuan dan tendangan yang mengakibatkan sang ibu melahirkan keesokan harinya dalam kondisi babak belur. Tentu saja persalinannya tetap tidak dibayar oleh ayah teladan tersebut dan tidak dilaporkan ke polisi. Duuuh!!!
Geram belum selesai ada lagi berita KDRT. Kali ini nggak jauh-jauh banget, dari rumah ibu saya sendiri. Nggak, bukan ibu saya tapi pembantunya datang untuk bekerja dengan facial art of cut lip and bruises. Dan, tentu saja pembantu ibu saya ini juga sedang hamil dan juga takut melaporkan suaminya. Oy!
Ibu yang pertama mempunyai beberapa anak yang masih kecil-kecil, dia tidak bisa meninggalkan mereka untuk bekerja sehingga aduannya ditarik kembali. Ibu kedua menyatakan tidak mau melapor karena tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah atau dengan ayah yang berada di penjara. Sementara calon ibu yang ketiga mengatakan ingin mati daripada hidup seperti ini.
Kebetulan ketiga perempuan diatas berasal dari golongan ekonomi lemah. Tapi KDRT tidak pandang bulu. Mereka yang mengendarai mobil mewah dan menyekolahkan anak2nya di sekolah mahal ada yang merelakan dirinya menjadi tempat latihan pukulan dengan stik golf demi anak2. KDRT betul2 lintas batas.
Mengapa para ibu ini rela menggadaikan nyawa dan jiwa mereka serta mengorbankan jiwa anak-anak mereka?
Saya berusaha memahami alasan ekonomi. Memang hidup disini sekarang susah dan mereka tidak diberi kesempatan untuk maju. Pahit. Mereka perlu kesempatan dan dukungan. Tetapi untuk mempertahankan perkawinan? Supaya anaknya punya ayah? Perkawinan macam apa? Ayah macam apa? Apa yang ingin diajarkan para ibu ini kepada anak-anaknya? Bahwa kekerasan, baik mental maupun fisik itu sesuatu yang normal? “Tapi Bu, kalau lagi nggak marah dia baik sekali kok!”

Ok, tapi begitu dia marah kamu izin sakit dan begitu datang kerja dengan keadaan bibir pecah, mata bengkak, pipi lebam, dan perlu cek kandungan ke bidan. Begitukah perilaku orang baik? Bagaimana jika dia belum puas memukuli dirimu, dia sambung dengan memukuli anakmu? Kalau hanya ‘dipukuli’, kalau kamu sudah lebam-lebam dan tidak menarik sehingga dia melampiaskan hasratnya ke anak perempuanmu?
Sekali lagi, mengapa menggadaikan nyawa?
Bagaimana kalau suatu saat dia betul-betul kehilangan kendali dan meninjumu tepat di solar plexus? Atau kamu yang kehilangan kontrol sehingga pisau yang sedianya untuk mengiris bawang bersarang di dadanya? Atau justru anakmu, tak tahan melihat ibunya memohon-mohon ampun melayangkan palu ke kepala ayahnya? Terlalu ekstrem? Percayalah, hal-hal ini sudah pernah terjadi.Artikel demi artikel menyatakan (atau kalau sering nonton Oprah), KDRT hanya bisa dihentikan oleh pelaku kalau pelakunya ikut terapi dan konseling, alternatif lainnya bila bila korban pergi dari lingkungannya. Karena apabila dari diri pelaku tidak ada kemauan untuk ikut terapi, biar dia minum segentong air pencuci kaki korban, tidak akan ada perubahan. Mungkin, tapi amat sangat tipis. Apabila dari diri korban tidak ada kesadaran bahwa dirinya berharga, maka dia akan terus teraniaya. Percuma saja mengambil si korban dari rumahnya karena kemungkinan dia kembali lagi sangat besar. Kalau belum ‘dong’ ya nggak efek.
Sementara itu bagaimana dengan jiwa anak-anak yang tumbuh dalam situasi demikian? Anak yang lahir dengan suci, direnggut dengan paksa. Jiwanya dirusak oleh darahnya sendiri yang seharusnya melindunginya dan menyayanginya. Sekali lagi, anak yang tumbuh di lingkungan KDRT berpotensi menjadi pelaku atau korban KDRT di masa depan. Kenapa? Karena dia tidak tau bagaimana mengekspresikan perasaannya selain melalui kekerasan karena hanya itulah yang dia pelajari waktu kecil. Tentu saja ini tidak berlaku untuk semua anak korban KDRT, tapi kenapa meriskirkan? Why chance it? Siklus ini tidak bisa dipatahkan kecuali ada kesadaran untuk berhenti melakukan atau diperlakukan.
Hargailah anak-anak kita. Beri mereka pendidikan dan tanamkan harga diri mereka dengan cinta dan kasih sayang. Jangan pupuk benih-benih kekerasan
READ MORE - Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Cinta Seperti Naik Angkot ...

Cinta…
Cinta itu seperti menunggu angkot.
Anda melihatnya dan berkata, "Aduh angkotnya jelek banget, penyok-penyok lagi! Nggak mau ah!"

Sebuah angkot lalu datang lagi, dan Anda bilang "Wah penuh banget di dalam, gak bisa duduk dong. Aku tunggu angkot lainnya aja!"

Angkot selanjutnya datang, tapi sayang dia hanya melewati Anda, seolaholah tidak melihat Anda.

Angkot berikutnya datang lagi. Anda kemudian bergegas masuk ke dalam, namun Anda terkejut dan berkata, “Wuih…panas banget, mana jorok lagi! Aku turun aja deh.”
Maka Anda membiarkan angkot itu pergi.

Waktu terus berlalu, dan Anda baru sadar bahwa Anda bisa terlambat pergi kerja jika tak segera naik angkot.

Ketika angkot satu lagi datang, Anda langsung melompat masuk ke dalamnya.

Namun, setelah beberapa lama, Anda baru sadar bahwa Anda salah masuk angkot karena angkot tersebut bukan jurusan ke tempat kerja Anda!

Pada intinya, orang seringkali menanti seseorang yang ideal atau mendekati sempurna untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% bisa memenuhi kemauan Anda. Persyaratan boleh diajukan, namun tidak ada salahnya jika membiarkan ‘angkot’ yang penuh sesak ataupun penyok-penyok untuk berhenti di depan Anda, dan tentunya yang satu ‘jurusan’ dengan Anda.

Jika Anda masih bisa masuk ke dalam angkot, dan berteriak, “Stop, Bang!”, maka semua keputusan atas kesempatan yang diberikan kepada ‘angkot’, ada di tangan Anda. Mana yang lebih baik, ‘angkot’ atau ‘jalan kaki ke tempat kerja yang sangat jauh’?” Jika memilih ‘jalan kaki’, maka Anda memilih hidup sendiri tanpa kehadiran pasangan hidup yang Anda cintai.

Begitu sulitnya untuk mendapatkan angkot yang tidak penuh sesak, kondisi kendaraan yang masih bagus, satu jurusan, bersih atau bila perlu ber-AC. Jika Anda telah melihat angkot seperti itu di depan Anda, maka Anda harus berusaha sekuat tenaga untuk memberhentikan angkot tersebut, lalu masuk ke dalamnya, karena menemukan angkot seperti itu adalah suatu berkat yang sangat berharga dan tidak semua orang bisa mendapatkannya.
READ MORE - Cinta Seperti Naik Angkot ...

cinta = bis kota

Cinta itu sama seperti orang yang menunggu bis....

Sebuah bis datang, Dan terkadang Kita bilang, "Wah.. Terlalu penuh, Sumpek,

bakalan enggak bisa duduk nyaman neh!" Aku tunggu bis berikutnya aja Deh....

"Kemudian, bis berikutnya datang. Kita melihatnya Dan berkata, "Aduh

bisnya kurang asik nih, enggak bagus lagi.. Enggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool Dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia

tidak melihatmu Dan lewat begitu saja.....duhh !

Bis keempat berhenti di depan Kita... Bis itu kosong, cukup bagus, tapi

terkadang Kita bilang, "Nggak Ada AC nih, bisa kepanasan aku". Maka kamu

Membiarkan bis keempat itu pergi. Waktu terus berlalu, Kita mulai sadar bahwa

Kita bisa terlambat pergi Kekantor. Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar,

kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, Kita akhirnya sadar kalau Kita salah menaiki bis.

Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju! Dan kau baru sadar telah

Menyiakan waktumu sekian lama.



Moral dari cerita ini: sering kali seseorang menunggu orang yang

Benar-benar "ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak Ada

orang Yang 100% memenuhi keidealan Kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan

Pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.



Tidak Ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada

Salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan Kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang Kita tuju.

Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.... Tapi Kita masih

Bisa berteriak 'Kiri' ! Dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya

bergantung pada keputusanmu. Daripada Kita harus jalan kaki sendiri menuju

kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan Kita menemukan bis yang kosong,

Kamu sukai Dan bisa kamu percayai, Dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu,

Kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut didepanmu,

Agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya.

Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkat yang sangat berharga

Dan sangat berarti. Bagimu sendiri, Dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang Kita tunggu?
READ MORE - cinta = bis kota